Iya, Kanaya selalu cerita sama gue dari hari ke-245 kami jadi teman sebangku. Dan selalu menceritakan itu sampai sekarang, sampai terakhir gue ketemu dia kemaren di rumahnya.
“Be.. ada nggak hal yang paling kamu ingini di hidup ini?” Waktu itu istirahat pertama setelah pelajaran fisika. Dan mendadak Kanaya bertanya serius, entah karena mabok rumus atau apa.
“Maksud kamu?”
“Itu.. Ada nggak hal yang paling kamu ingini di dunia ini. Selain bikin bahagia orang tua lah.” Katanya sambil membereskan buku pelajaran.
Gue yang waktu itu sedang berniat ngupil, mendadak tertegun. Dan berpikir setelahnya. Well, seingat gue, gue gak jadi ngupil.
“Hmm.. gue pengen ketemu alien.” Jawab gue seadanya. Entah deh, entah apa itu memang hal yang paling gue ingini dalam hidup atau bukan.
“Ketemu alien? Dasar cowok aneh.” Kanaya tertawa kecil. Oh iya, sejak saat itu, dia selalu mengatakan itu. Mengatakan kalo gue ini cowok aneh.
“Kalo kamu apa?”
Kanaya terdiam, ada jeda panjang sebelum dia berbicara dengan senyum yang manis dan mata yang menerawang berbinar.
“Paris.”
“Paris?” gue heran. “Masa iya dia mau beli Paris. Berapa duit coba?” Gue salah tangkep.
“Aku pengen pergi ke sana.”
“Oh. Ke Paris?”
Dia mengangguk sambil nyengir. Dan gue entah kenapa, terdiam.
“Pasti seneng banget bisa ke sana. Keliling kota jalan kaki, terus naik ke menara Eiffel. Terus.. Terus.. uaaaah, ngebayanginnya aja udah seneng banget, Be.” Katanya sambil mengusap air mata.
“Kamu kenapa?” Tanya gue kuatir.
“Eh, gak apa-apa. Malu-maluin, aku emang kalo udah pengen banget jadi suka terharu gak jelas gini. Hihi.” Kanaya menjawab gugup. Dan detik itu gue tahu dia memang bukan sekedar pengin ke Paris. Dia memimpikan untuk bisa berada di sana. Setinggi itu inginnya.
“Udah jangan mewek, ntar kita ke sana.” Kata gue pelan.
Bruk.
Buku fisika setebal daun pintu lepas dari pegangan Aya dan jatuh di atas meja. Dia melongo.
“Barusan kamu bilang apa, Be?” Tanyanya dengan intonasi pelan.
“Aku bilang, nanti kita ke sana.”
“Ke Paris?”
“Bukan. Ke Grogol. Iya dong ke Paris.”
“…”
“Aku janji…” Gue dengan sotoy nyodorin kelingking dan tanpa sadar itu disambut Kanaya sambil menatap wajah gue tak percaya.
Mungkin yang ada dalam pikirannya saat itu di antara gue ini orang stres karena trauma masa kecil yang sering disiksa ibu tiri atau malah abang-abang supir angkot depresi yang sedang menyamar. Atau mungkin malah combo keduanya. Tapi gue gak peduli.
Dan saat itu Kanaya cuman diem. Gue nggak tahu pasti apa yang dipikirkannya. Mungkin dia nggak percaya dan nganggep gue cuman bercanda.
Tapi tanpa dia tahu, gue sama sekali nggak main-main dengan apa yang gue pikirin. Sampai detik ini.
fin
Cerita di atas adalah salah satu bagian kecil dari sesuatu yang mudah-mudahan menjadi besar 









0 komentar:
Posting Komentar