Thanks for visit
Photobucket
InsyaAllah Update Artikel Tiap Hari

Cerpen | DI DALAM KELOPAK BUNGA ASTER



Hari-hari yang sama kembali terlewati. Tanpa rasa, tanpa cerita yang pasti. Tanpa dia yang pernah dan selamanya ada didalam hati. Ini bukan kisah ku. Namun ini adalah kisah seorang teman terbaikku.

Kisah ini berawal ketikahujan mulai turun membasahai tanah yang fana ini;
Tahun ajaran baru dimulai. Akan ada tempat baru dan teman baru. Harus dilewati bagi murid kelas satu yang baru. Dan saat inilah awal pertemuan antara Naya dengan cinta pertamanya, Dira.
Naya adalah gadis cantik yang banyak dikagumi. Dia menjadi primadona sekolah sejak pertama masuk. Selain cantik, Naya adalah pribadi yang ceria dan begitu menonjol diantara siswa perempuan lainnya.
Sedangkan Dira hanyalah seorang siswa biasa yang tidak begitu menonjol. Memang ku akui kalau dia termasuk cakep. Namun entah kenapa dia tidak pernah mencoba menjadi yang terbaik.
Saat awal MOS, Dira dihukum karena datang terlambat. Dia disuruh senior untuk mengumpulkan daun semanggi berdaun lima dibelakang sekolah. Semua orang tahu kalau semanggi hanya memiliki 3 ato 4 daun. Tanpa protes, Dira melaksanakan hukumannya itu.
Sudah lama Dira mencarinya. Namun tidak juga dia menemukan sesuatu yang dia cari. Hingga hujan pun mulai membasahi bumi.
Dari kejauhan, Naya melihat Dira yang sedang berteduh dibawah pohon. Pemuda itu terlihat kedinginan. Walau tahu pekerjaannya akan sia-sia, dia tetap kekeh berada ditempatnya.
Naya menghampiri pemuda itu. Dia membentangkan paying diatas kepala Dira.

“Elo goblok ato bego sih? Mana ada semanggi berdaun lima?” ucap Naya jengkel.

“Aku pernah melihatnya.” jawab Dira singkat.
Naya duduk disamping Dira. Dia melihat keyakinan dari sorot mata Dira. Hatinya pun tersentuh.

“Kita taruhan. Kalau benar ada, gue akan memenuhi semua permintaan elo. Tapi kalau sampai sore enggak ketemu, elo harus traktir gue sepuasnya. Setuju?” ucap Naya sembari mengulurkan tangannya dihadapat Dira sebagai sarat persetujuan.
Dengan ragu, Dira menyambutnya.
Mereka mencari daun semanggi bersama-sama.

Hingga tiba-tiba, Dira berseru senang. Sebuah senyuman lebar mengembang dibibirnya. “Aku menemukannya..”
Dan benar, Dira menemukan semanggi berdaun 5. Naya tersenyum senang.

“Elo hebat, pangeran semanggi…” ucap Naya.
Tanpa sempat saling mengucapkan nama, mereka berpisah. Tiba-tiba saja Dira menghilang dari sisi Naya tanpa dia sadari.
Hari MOS kedua, dan seterusnya, Naya tidak melihat Dira. Pemuda itu seperti ilusi yang sesaat tlah menghilang. Namun perasaannya bukanlah ilusi. Perasaan yang berbeda, terasa saat bersama Dira.
Pemuda itu seperti hilang ditelan bumi.
***
Masa MOS telah usai. Saatnya pelajaran dimulai.
Naya duduk dikela yang sama denganku. Dia berada disampingku. Jadi terlihat jelas kegalauan hatinya karena ketidakberadaan Dira.
Pelajaran hampir dimulai. Perhatian Naya hanya terarah pada keberadaan Dira saat ini. Dimana dia? Kenapa dia tidak pernah datang? Dia seperti hantu yang terus membayang hari Naya.
Bel masuk berbunyi. Seorang anak datang bertepatan saat guru memasuki ruang kelas.
Betapa terkejutnya Naya saat melihat anak itu. Yup benar!! Dia Dira. Perasaannya yang tadi kalang kabut berubah senang. Senyuman lebar mengembang dari telinga hingga telinga.
Dira duduk disebah bangku kosong. Dia sebangku dengan seorang pemuda yang terlihat asyik diajak berbicara. Mereka saling mengenalkan diri.

“Raizkadira. Panggil saja Dira.” ucapnya ramah sembari mengulurkan tangannya.

“Arizal. Panggil aja Izal. Calon cowok idaman disekolah ini.” ucapnya, meyambut uluran tangan Dira.
Dira tersenyum geli mendengarnya.

“Oh Ya? Berarti aku berutung dong bisa sebangku denganmu.” ucap Dira.

“Bahasanya baku amat. Pake aku kamu segala.” ucap Izal.

“Aku terbiasa. Soalnya dirumah pakai ini. Sorry deh kalau kamu terganggu.” ucap Dira.

“Enggak biasa aja dengernya. Tapi asyik juga!!” ucap Izal.
Naya terus memperhatikan Dira yang duduk persis didepannya. Dia penasaran kemana dia selama ini. Selain itu kenapa dia tidak mengenalinya. Padahal hari itu adalah saat yang paling berkesan.

“Pangeran Semanggi!!” panggil Naya pelan.
Dira menoleh. Naya tersenyum menyambutnya.

“Selama MOS elo kemana? Kok ga kelihatan?” tanya Naya.
Belum sempat Dira menjawab, Bu Enny menegur Naya karena berbicara saat pengenalan siswa baru yang ada dikelas.

“Kanaya Indah Pertiwi?” seru Bu Enny.

“Iy..iya Bu!” sahutnya gugup.

“Coba sebutkan nama anak yang duduk dihadapan Ibu!”
Masalah datang diawal sekolah. Dari tadi memang dia tidak memperhatikan Bu Enny. Tapi dia memperhatikan Dira yang ada dihadapannya. Dia benar-benar habis kali ini. Sama sekali dia tidak tahu.

“Adrian Putra.” ucap Dira pelan.
Naya langsung menyebutkan nama yang Dira katakana. “Adrian. Adrian Putra.”

“Bagus.”
Kali ini Dira menyelamatkannya dari hukuman guru super killer disekolah. Untung ada Dira. Kalau tidak, dia pasti akan menghabiskan hari ini diruang hukuman.

“Terima kasih.”
***
Naya pulang kerumahnya. Bagitu meletakkan tas, dia mengambil sebuah foto dari meja belajar. Didalam figura itu tergambar sebuah foto seorang pemuda yang tersenyum senang.

“Kakak, sepertinya aku jatuh cinta.” ucapnya. “Tapi sepertinya dia tidak merasakan perasaan yang sama. Kalau kakak ada disini, apa yang akan kakak katakana padaku?” tanyanya.
Foto yang diajaknya berbicara hanya terdiam. Tetap dan selalu terdiam. Seandainya dia masih bernafas dan hidup didunia ini, Naya akan sangat senang.
Tegeletak setangkai bunga Aster dihadapannya.
Ditempat lain, Dira juga pulang kerumahnya. Dia langsung masuk kedalam kamarnya. Dia memandang sebuah foto yang terpajang didinding kamar. Wajahnya terlihat sangat sedih.

“Maafkan aku!! Maafkan aku!!” gumamnya. Tanpa terasa air matanya meleleh.

“Maafkan aku!!”
Dira terus mengatakan kata itu. Berulang-ulang, hingga tidak terhitung bayaknya.
Dira histeris didalam kamarnya. Dadanya sesak. Jantungnya terasa sangat sakit seperti ada sesuatu yang menekan. Sakit didadanya tidaklah sesakit hati penuh penyesalan.
Kelopak bunga aster yang telah kering, satu persatu gugur dari tangkai yang menopangnya. Dialah yang menemani Dira merasakan rasa sakitnya. Tiada yang lain. Hanya Dira dan kelopak bunga Aster yang berguguran.
***
Olahraga adalah bidang yang paling Naya suka. Dia begitu semangat menyambut hari ini.
Saat pelajaran olahraga dimulai, dia tidak melihat Dira dilapangan. Semua teman termasuk Izal tidak tahu dia kemana. Karena penasaran, Naya mencari Dira dikelas. Dan banar saja, Dira duduk termenung didalam kelas sendirian.
Naya baru sadar, dia tidak pernah melihat senyum Dira disaat pertama mereka bertemu. Dira hanya terdiam. Tidak pernah berbicara kecuali pada Izal, teman sebangkunya. Tidak pernah dia tersenyum senang. Kadang dia hanya mempersembahkan senyum yang dipaksanya.
Naya menghampirinya dan bertanya.

“Kenapa tidak ikut olahraga?” tanya Naya.

“Tidak apa-apa.” jawab Dira singkat. Naya memegang dahi Dira. Buset!! Badannya panas sekali. Hampir melebihi suhu diluar.

“Elo sakit. Ke UKS ya?” ajak Naya.

“Tidak perlu. Terima kasih!!” Naya duduk disebelah Dira. Tidak diperdulikannya pelajaran olahraga yang sudah dimulai.

“Hei.. pangeran Semanggi, elo kemana waktu MOS? Berhari-hari enggak kelihatan.” tanya Naya.

Dira menoleh. “Kenapa kau selalu memanggilku Pangeran Semanggi?”

“Karena elo bisa nemu semanggi yang langka. Hanya orang tertentu yang bisa menemukannya.” Dira tersenyum senang mendengar ucapan Naya yang aneh.

Kan semakin cakep kalau senyum.” puji Naya. Dira berdiri. Dia tidak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan Naya.

“Mau kemana?” tanya Naya.

“UKS.” Dira pergi meninggalkan Naya dikelas sendirian. Naya semakin tidak mengerti. Kenapa dengan Dira? Dia tidak sehangat dulu. Dia tidak seramah dulu. Ada apa?
***
Dira duduk sendiri diatap gedung sekolah. Naya menghampirinya dan duduk disebelah Dira yang hanya membisu.

“Kenapa elo ada disini? Gak kekantin atau perpus kayak yang lain?” tanya Naya.

“Aku tidak suka tempat ramai. Dan aku lebih suka sendiri.”
Perkataan Dira seperti menyindir Naya yang datang ketempatnya ingin sendiri. Naya menyadari itu. Dia berdiri dan beranjak pergi. Namun Dira memegang tangannya. Naya terdiam tidak percaya.

“Duduk!” pinta Dira. Naya kembali duduk ditempatnya.

“Kamu suka bunga Aster?” tanya Dira.

“Tidak terlalu. Tapi seseorang yang aku kenal menyukai bunga itu. Karena…”

“Bunga itu seperti bintang yang jatuh dari langit.” Naya memandang Dira tidak mengerti. Kenapa dia bisa tahu itu?

“Apa benar orang yang sudah meninggal akan menjadi Langit?” tanya Dira. “Mereka bisa melihat kita. Tapi kita sama sekali tidak dapat melihat mereka. Sungguh tidak adil.”

“Iya sungguh tidak adil. Dia bisa lihat gue. Tapi kenapa gue enggak bisa lihat dia? Menyebalkan.”

“Kalau aku ingin menjadi setiap kelopak bunga aster.”

“Kenapa?”

“Karena bila kelopak bunga Aster layu, perjalanannya tidak akan berakhir. Mereka akan diterbangkan oleh angin yang sejuk.”
Dira terdiam. Naya juga terdiam. Mereka memandang langit dan mengenang seseorang yang sudah pergi kesebuah tempat yang sangat jauh. Masing-masing berada pada dunianya sendiri.

“Gue enggak ingin elo jadi kelopak bunga aster.” ucap Naya. “Karena gue pengen elo selalu ada didekat gue.” Dira sangat terkejut mendengarnya.

“Maksudnya?”

“Gue butuh elo Dir. Bukan sebagai kelopak bunga, tapi sebagai Dira yang hidup dan bernafas disamping gue.” ucap Naya.

Dira semakin terkejut. Saat itu jantungnya terasa nyeri. Sangat sakit. Tanpa memperdulikan Naya, Dira pergi berlari meninggalkan gadis itu.
Naya terpaku ditempatnya. Dia tidak menyangka reaksi Dira akan seperi itu. Dia meyalahkan kebodohannya karena begitu jujur pada Dira.
***
Satu demi satu kelopak bunga Aster dikamar Dira mulai layu. Saat kelopak terakhir jatuh, maka selesai sudah masa yang dimilikinya.
Dia mempunyai janji pada Tuhan. Ketika tangkai terakhir layu dan kelopak bunga terjatuh, dia akan menurut untuk dibawa-Nya pergi. Dia tidak lagi berontak. Dia tidak lagi menolak.
Beberapa hari lalu, kondisinya kembali kritis dan terpaksa masuk rumah sakit. Tuhan telah memanggilnya. Namun dia meminta agar Tuhan tidak terlebih dahulu memintanya kembali. Dia ingin waktu hingga tiga tangkai bunga Aster dikamarnya layu dan gugur. Karena masih ada sesuatu yang belum dia selesaikan.
Kini hanya tinggal satu tangkai yang masih bertahan. Bunga Aster berwarna Putih.
Dira sadar benar, waktunya akan segera habis.
Sejak lahir dia tahu kalau umurnya tidak akan sampai 17 tahun. Dia tahu pasti. Namun suatu hari, datang dua bersaudara yang memberinya harapan baru. Orang-orang yang selalu membuatnya ingin bertahan dan terus hidup. Dan kini dia adalah orang yang menghancurkan mereka.
Dira memegang dadanya yang rapuh. Jantungnya masih berdetak. Nafasnya masih terasa.
***
28 Januari,
Hari terburuk didalam kehidupan Naya. Hari inilah dia kehilangan kakak yang paling disayanginya. Hari inilah awal dari perubahan hidupnya.
Tiga tahun lalu, dipagi hari yang sangat sejuk. Sebuah motor menabrak kakaknya, Nathan yang sedang bersepeda untuk mengantar Koran. Nathan adalah anak yang ulet. Walau orang tuanya mampu untuk membiayai hidupnya, dia tetap bekerja. Dia adalah kakak sempurna dimata Naya. Karena terlalu shock atas kematian anaknya, ibu Naya jatuh sakit dan meninggal satu bulan kemudian. Ini adalah bencana terbesar bagi Naya. Dia sangat membenci pengendara motor yang menabrak kakaknya.

Naya pergi kejalan tempat kakaknya menghembuskan nafas terakhir. Dia membawa setangkai bunga Aster berwarna merah. Jalanan itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Dia melangkahkan kaki disebuah sudut jalan. Dibawah tiang listrik yang berdiri kokoh. Dan seperti biasa, sudah ada setangkai bunga Aster berwarna putih disana. Entah siapa yang meletakkannya. Setiap tahun bunga itu sudah ada disana. Naya berpikir kalau itu adalah Izka. Taman mereka sejak kecil yang sekarang entah dimana keberadaannya.

“Izka datang lagi ya kak? Kenapa sih dia tidak menemuiku? Gak tau apa kalau cintaku sudah berpaling pada orang lain, dan orang itu tidak memperdulikannya. Kalau kakak sama dia ada pasti tu anak udah bonyok..!” ucap Naya pada sosok yang tak beraga. Naya meletakkan bunga itu disamping bunga yang lain.

“Semoga kakak senang disana.”
Naya melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Hari ini dia harus sekolah dan kembali bertemu dengan Dira. Dia masih malu karena pernyataan cintanya kemarin.

“Rasanya hari ini aku tidak sekolah saja…” gumamnya.
***
Naya menginjakkan kaki kedalam kelasnya. Dia tidak melihat Dira. Izal hanya sendirian ditempatnya.

“Cari Dira?” tebak Izal.

“Enggak. Sok tau lo..”

“Jangan bo-ong. Kelihatan kok dari muka lo..” goda Izal. Naya sangat sebal. Susah paya dia menahan diri untuk tidak bertanya dimana Dira, eh malah Izal menyodorkan pertanyaan seperti itu.

“Dia ada di UKS. Gue yang anter kesana karena badannya panas banget.” ucap Izal. Tanpa dikomando, Naya langsung pergi ke UKS. Biar bagaimanapun dia cemas pada pemuda itu. Didalam ruang UKS, Naya melihat Dira yang sedang terbaring. Awalnya dia ingin masuk. Namun setelah mengingat kejadian kemarin, dia mengurungkan niatnya. Namun saat beranjak pergi, Dira memanggilnya.

“Naya?!!” Naya berbalik dan masuk kedalam ruang UKS.

“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Dira. Naya mengangguk. Dira bangkit dari tidurnya.

“Maaf untuk yang kemarin. Aku sangat terkejut.” ucap Dira. “Sebenarnya, aku ingin kita mencobanya! Bagaimana? Setidaknya beri waktu aku untuk didekat kamu.” Naya tertegun tidak percaya. Oh My God!! Ini seperi mimpi baginya.

“Bila kita saling cocok, kita akan melanjutkan hubungan ini. Tapi….”

“Apa?”

“Kamu mau menerima aku apa adanya? Nanti pasti terlihat bagaimana dan siapa aku. Bagaimana kalau aku adalah orang yang paling tidak ingin kau temui? Bagaimana kalau aku tidak seperti yang kau bayangkan? Apa kau tetap akan menerima aku?”
Naya semakin tidak percaya. Dira yang selama ini dai suka, ingin menjalin hubungan dengannya? Naya sangat bahagia mendengar itu. Walaupun hubungan mereka masih percobaan, dia tidak perduli. Yang penting dia akan selalu disamping Dira.
Dengan mali-malu Naya menjawabnya. “Aku akan menerima kamu apa adanya. Siapapun kamu, bagaimanapun kamu. Cinta ini tidak akan berubah…”
Saat itu dia langsung memelukku dengansenangnya. Akupun menyambutnya dengan senang pula.
Naya tidak percaya hari ini akan terjadi. Sungguh ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup Naya.
Aku melihat kebersamaan mereka dari sudut ruangan. Mereka terlihat begitu bahagia. Aku tersenyum senang. Dan berharap hubungan mereka akan lancar…. Somoga…
***
Hubungan Naya dan Dira berjalan begitu hangat. Mereka bisa saling mengerti dan memahami. Dira sering mengajak Naya pergi kesebuah taman yang penuh dengan bunga Aster. Dira sangat menyukai bunga aster. Katanya bunga Aster adalah bunga malaikat. Warnanya yang beraneka ragam membuat kegembiraan didalam hidup manusia. Dan dia percaya pembawa kebahagiaan didunia ini adalah sang malaikat.
Namun Naya tidak setuju akan itu. Menurutnya pembawa kebahagiaan didalam hidupnya bukanlah Bunga Aster, tapi Dira. Dira tersipu malu mendengar itu.

“Apa yang kamu sukai dari aku?” tanya Dira ditaman penuh bunga Aster itu.

“Kamu ingat saat pertama kali kita bertemu?” tanya Naya. “Saat itu kamu kehujanan karena mencari daun semanggi. Bukannya sebel, eh kamu malah senang. Saat itu aku melihat kamu tersenyum. Sejak itulah aku menyukaimu. Senyummu adalah hal yang paling berharga didalam hidupku, Pangeran Semanggi…” jelas Naya.
Dira tersenyum mendengarnya. Dan Naya selalu senang saat melihat senyum itu.

“Bagaimana kalau aku bukan orang baik? Apa senyumku masih begitu berharga untukmu?” tanya Dira.

“Kenapa tanyanya kayak gitu sih?”

“Bukan apa-apa.”
Dira kembali terdiam. Dia memetik satu tangkai bunga Aster putih untuk Naya.

“Suatu saat kalau aku enggak ada, dan kamu ingin bertemu dengan aku, pandanglah kelopak bunga Aster ini. Kalua kamu ingin menangis, cabuti kelopak bunga ini dan biarkan dia pergi bersama angin. Jangan ada satu air mata pun yang jatuh dari mata kamu!!” ucap Dira.
Naya sebal karena ucapan Dira yang aneh. Seolah terisyaratkan kalau Dira tidak ingin berlama-lama berada disampingnya.

“Aku capek kalau kamu selalu mengatakan hal aneh itu…” ucap Naya marah. Dia beranjak dan pergi meninggalkan Dira.
Dira hanya terdiam tanpa ada keinginan untuk mengejarnya. Dia hanya memandang punggung Naya yang mulai menjauh.

“Maafkan aku!!”
***
Naya masih marah karena kemarin. Namun dia juga tidak bisa bila harus menjauhi Dira. Karena itu dia mengalah dan memutuskan untuk berbicara pada Dira.
Didalam kelas, dia tidak melihat Dira. Dia bertanya pada Izal. Dan pemuda itu mengatakan kalau Dira tidak masuk karena sakit.
Sepulang sekolah, Naya pergi kerumah Dira. Dia bertanya pada Izal yang sudah pernah pergi kerumah Dira.
Rumah Dira terletak didaerah pondok indah. Tempat rumah orang-orang berduit. Memang Dira pernah bercerita kalau ayahnya mempunyai perusahaan Meubel. Sedangkan ibunya mempunyai Butik di Singapura.
Naya masuk kedalam pekarangan sebuah rumah no 5. Rumah bercat putih itu terlihat begitu mewah. Dihalamannya tertanam berbagai tumbuhan dan bunga yang harum baunya.
Naya menekan bel. Tidak lama kemudian, keluar seorang wanita tua dari rumah itu. Kelihatannya dia adalah pembantu rumah tangga.

“Cari siapa Neng?” tanya wanita itu.

“Diranya ada?”

“Oh Mas Dira. Ada. Sedang istirahat dikamar. Silahkan masuk dulu Neng..”

Aku masuk kedalam rumah besar Dira. Terlihat begitu mewah. Banyak perabotan antik yang menghiasi seluruh sudutnya. Foto keluarga lengkap terpajang didinding ruang tamu. Terlihat foto Dira bersama ayah dan ibunya serta seorang gadis yang beruur sekitar 14 tahun. Namun ada sesuatu yang kurang. Kehangatan sebuah keluarga.

Diatas sebuah meja, Naya melihat foto sebuah motor yang tidak asing lagi dimata Naya. Warnanya, tipenya, dan plat nomornya. Naya pernah melihat itu.

“Mas Diranya sedang ganti baju.” ucap bibik yang datang dari tangga.

“Itu foto motornya siapa Bik?” tanga Naya, sambil menunjuk foto yang dia maksud.

“Oh..Itu milik Mas Dira. Tapi sudah tidak dipakai setelah nabrak pengendara sepeda.” jelas Bibik.

Naya semakin tertegun tidak percaya. 

“Sekitar tiga tahun lalu, Mas Dira bertengkar hebat dengan Tuan dan Nyonya. Mas Dira marah dan pergi menggunakan motornya. Ditengah jalan, kecelakaan itu terjadi. Padahal motor itu ingin Mas Dira berikan pada sahabatnya.” jelas Bibik.

Naya semakin yakin. Itu adalah motor yang menabrak kakaknya 3 tahun lalu. Dan yang menyebabkan kematian kakaknya adalah… adalah Dira. Naya tidak percaya. Sungguh tidak percaya…

Naya berlari pergi meninggalkan rumah Dira. Dira mengejar Naya. Dia menahan tangan Naya dihalaman rumahnya.

“Setelah kamu tahu, apa perasaan mu padaku masih sama?” tanya Dira. “Iya. Aku!! Aku yang membunuh Nathan. Karena aku… karena aku Nathan meninggal. Semuanya karena aku?!!”

Naya mendengar kenyataan itu langsung dari Dira. Dia tidak percaya Dira mengatakan hal itu. Kalau dia sudah tahu, lalu apa gunanya dia menerimaku. Apa sebenarnya maunya?

“Maaf!! Maafkan aku Naya…. Maafkan aku Naya!!” ucap Dira. Dia terlihat begitu menyesal.

Naya tidak kuasa lagi menahan air matanya….

“Kenapa kamu mau terima aku? Rasa bersalah? Kamu terima aku karena rasa bersalah?” tanya Naya.

Dira hanya terdiam. Naya berpaling dan pergi meninggalkan Dira.

“Tidak perduli apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu inginkan. Aku hanya ingin mendengar kata maaf darimu hanya itu. Naya!!”
Naya tidak memperdulikannya. Dia terus berjalan meninggalkan Dira yang terduduk lemas diatas tanah.Hujan mulai turun ditengah musim panas yang terik.

“Maafkan aku!! Maafkan aku!!”
Tiba-tiba jantung Dira kembali terasa sakit. Rasanya sangat nyeri. Tidak dapat lagi dia rasa pijakan tanah yang basah, tiada lagi terlihat cahaya terang yang menyinari matanya. Semua berubah gelap, hitam, dan perlahan menghilang…

***
Tiada harapan lagi didalam hubungan Dira dan Naya. Semuanya hilang dalam sekejab mata. Kehangatan, kebersamaan, semua sirna.
Semua siswa dikelas tidak percaya mereka akan berpisah secepat itu. Karena selama berhubungan, mereka terlihat begitu bahagia. Izal menyadari kalau hal ini pasti akan terjadi.
Didalam hati Naya tetap ada Dira. Sekeras apapun dia berusaha melupakannya, baying senyum Dira selalu menyertai langkahnya. Sebenarnya dia sudah merelakan kepergian kakaknya. Karena biar bagaimanapun dia membencin pengendara motor itu, kakaknya tidak akan pernah kembali. Namun yang dia sesalkan adalah karena Dira menerimanya bukan karena cinta. Tapi karena rasa bersalah.
Naya masuk kedalam kelas. Lagi-lagi Dira tidak ada tetempatnya. Sudah seminggu ini Dira tidak masuk sekolah. Tidak ada yang tahu dimana dia sekarang. Bahkan Izal yang dikenal paling dekat dengannya pun tidak tahu.
Naya berusaha mengacuhkan itu. Tapi dia tidak bisa. Lama kelamaan dia merasa kehilangan sosok Dira didalam kelasnya.

“Kalian saling cinta, kenapa menghukum diri seperti ini sih?” tanya Izal.

“Dia enggak cinta sama gue. Dia Cuma…”

“Ingin menebus kesalahan?” ucap Izal. “Dira sayang sama elo Nay. Bahkan sebelum elo kenal sama dia. Gue tahu itu…”

Naya mencoba mempercayainya. Dia ingin seperti itu. Namun kenyataannya, Dira bahkan tidak mencegahnya pergi saat itu.
Setelah melewati satu hari yang melelahkan disekolah, Naya pulang kerumahnya. Didalam rumah dia melihat Ayahnya sedang duduk termenung memandang beberapa berkas yang tidak pernah dilihatnya.

“Ayah sedang apa?” tanya Naya. Dia duduk disamping Ayahnya.

“Tentang pemuda yang bernama Dira itu, Ayah sudah dengar..” ucap Ayah. Naya terkejut mendengarnya. Dari mana Ayahnya mengetahui itu.

“Ayah ingin menunjukkan kamu ini..” Ayah memberikaku sebuah dokumen. “Itu dokumen pendonoran jantung Nathan untuk Izka. Dia tahu kamu mencintai Izka dan dia juga tahu kalau Izka menderita penyakit jantung sejak kecil. Dokter memvonis dia tidak dapat hidup lebih dari 17 tahun.” jelas Ayah.
Naya membaca surat itu. Namun nama yang ditemukannya bukanlah nama Izka. Tapi tertulis sebuah nama yang sangat dikenalnya. ‘Raizkadira Andriano’. Naya semakin terkejut. Jadi Dira adalah Izka, cinta pertamanya yang telah lama hilang?

“Dira menolak pemberian jantung Nathan karena dia merasa tidak pantas menerimanya. Dia terus menangis karena menyesal. Hingga akhirnya kondisinya memburuk. Dia ingin datang pada kita. Namun dia juga takut menghadapi kamu..” jelas Ayah panjang lebar.
Air mata Naya terus meleleh. Dia tidak menyangka kalau Dira lebih menderita dari siapapun karena kecelakaan itu.
Langsung saja Naya berlari menuju rumah Dira. Namun kata Bibik, Dira sudah tidak tinggal dirumah itu. Sekarang Dira tinggal bersama orang tuanya. Dan yang terburuk, Bibik tidak tahu dimana rumah orang tua Dira.
Setelah itu, dia datang kerumah Izal. Dia merengek pada Izal untuk membantunya mencari Dira. Izal yang merasa kasihan pada Naya mengiyakannya. Mereka berdua mencoba mencari informasi dimana Dira. Namun hasil yang mereka dapat tidak selalu sesuai dengan harapan.
***
Dira duduk sendiri diatas kursi rodanya. Dua minggu sudah dia dirawat dirumah sakit. Dan dua minggu pula di tidak melihat Naya. Dia sadar, cinta Naya tidak pantas dia miliki. Naya adalah sosok yang sempurnya. Sedangkan dia hanya seorang pemuda yang begitu rapuh, dengan penyakit jantung yang selalu menghantui. Naya tidak akan bahagia bila bersamanya. Karena itulah dia tidak mengejar Naya saat itu.
Dia memandang selang infus yang bersarang ditangan kirinya yang tidak pernah terlepaskan. Kini dia benar benar rapuh. Selang infuse dan alat-alat aneh dikamarnya lah yang menopang hidupnya kini.
Bunga Aster dikamarnya pun telah lahu. Tinggal menunggu satu demi satu kelopaknya berguguran. Waktunya hampir mencapai batas. Dia tidak memiliki keinginan lagi untuk bersama Naya.
Dira meraih sebuah kertas dan bolpoin dimeja. Kemudian menulis beberapa bait kata dengan tangannya yang terus gemetar.
***
Izal menggedor-gedor pintu rumah Naya pagi-pagi benar. Dia membawa surat dari Dira. Saat itu Naya masih tertidur karena semalaman menangis memfikirkan Dira.

“Ada apa?”

“Surat dari Dira. Gue temuin dibangku elo.” ucap Izal. Dengan tergesa Naya membuka surat itu.


Teruntuk;

Naya, my first love,
Beribu kata maaf, dan sebesar apapun penyesalan, mungkin tidak dapat mengobati luka di hatimu. Namun harus kau tahu, hanya maaflah yang kunantikan selama ini.
Aku tidak berharap kau masih mencintaiku. Aku tidak perduli apakah kau masih mau meneruskan hubungan kita. Aku hanya ingin maaf darimu.
Tuhan telah memberiku kesempatan untuk mendengar kata maaf darimu. Dan kini perjanjianku dengan Tuhan telah mencapai batasnya. Hingga kelopak bunga Aster terakhir akan gugur, saat itulah waktuku akan berakhir.
Kau ingat saat aku tidak masuk ketika MOS? Itu karena aku kembali masuk rumah sakit. Jantungku yang rapuh ini tidak kuat menahan kerasnya kegiatan MOS. Aku terlihat begitu lemah ya?

Sekali lagi, aku meminta maaf Nay. Maaf karena tidak berani menggenggammu lebih erat. Kau tahu? Aku begitu takut. Rasa cinta ini tidak dapat kubunuh. Sekeras apapun aku mencoba, rasa ini selalu saja tumbuh didalam setiap menitnya. Sungguh aku ingin bersamamu. Namun ada banyak hal yang membuat kita tidak dapat bersatu.
Nay, kata maaf darimu akan mengantarku kedalam dunia yang begitu damai. Disana, segala rasa sakit ini akan sirna. Aku ingin kesana. Aku ingin terbebas, seperti kelopak bunga Aster yang terbang tertiup angin.
Aku akan hidup disetiap udara yang kau hirup, aku akan hidup disetiap kelopak bunga Aster yang berguguran dimusim panas…. Menyertai langkahmu dan selalu bersamamu…
Boleh aku bertanya sesuatu? Apakah kini senyumku masih berharga dihidupmu? Karena dulu dan selamanya, senyummu adalah kekuatan yang membuatku tetap bertahan… Satu kata terakhir dariku yang harus kau tahu…

I fall in love with you, first, now and forever….

Raizkadira….

Tanpa dapat dibendung, air mata Naya meleleh dengan derasnya. Membasahi surat yang berada didalam genggamannya. Lututnya lemas tak bertenaga. Seolah tidak kuat lagi menahan beratnya kesedihan yang dia rasa.

“Kita kerumah sakit Medika sekarang. Dira dirawat disitu!!”

Segera mereka melangkahkan kakinya pergi.
Ditempat lain… Didalam sebuah ruangan yang tertutup, Dira sedang berjuang. Didalam dia berjuang sendirian. Dokter hanya membantunya untuk mengembalikan detak jantungnya yang sempat menghilang.
Diluar, orang tua dan adik Dira sudah didatangkan oleh tim dokter. Mereka harus menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Dira. Karena kondisi Dira benar-benar menghawatirkan.
Setelah terjebak macet beberama menit, akhirnya Naya dan Izal sampai dirumah sakit. Saat itu Naya melihat orang tua Dira tertunduk sedih. Perasaannya semakin tidak enak. Dia melihat Dira dari kaca daun pintu kamar Dira.
Indy, adik Dira menyadari kedatangan Naya. Dia mengenal gadis itu. Karena setiap hari Dira selalu bercerita tentangnya. Selain itu banyak foto Naya yang tertempel di dinding-dinding kamar Dira.

“Kak Naya kan?” tanya Indy. Indy mengajak Naya duduk disampingnya.

“Kak Dira sering bercerita tentang kakak. Ternyata kakak lebih cantik dari yang ada difoto.” ucap indy.

Naya cukup terkejut. Dari raut wajahnya, dia tidak terlihat sedih dan khawatir pada kondisi kakaknya sendiri. Dia malah cenderung santai.

“Kakak cinta sama kak Dira? Karena kak Dira juga cinta sama kakak.” ucap Indy. Indy menyerahkan sebuah agenda berwarna biru pada Naya. “Kalau sempat, baca ya!!” ucap Naya.

Seorang dokter keluar dari kamar Dira. Orang tua Dira dan mereka semua menghampiri dokter dengan cemas.

“Bagaimana keadaan Dira, dok?” tanya ibu Dira.

“Hampir 80% organ dalam Dira kehilangan fungsinya. Dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi…” jelas dokter.

“Tapi bagaimana dengan tlanplantasi?”

“Untuk saat ini, hal itu akan sia-sia saja. Kita tidak dapat melakukan apa-apa kecuali pasrah dihadapan Tuhan…”

Kontan semua mata meneteskan air matanya. Ayah Dira memapah istrinya yang sudah sangat lemas. Indy hanya terdiam tidak mengatakan apapun. Izka juga hanya terdiam. Sementara Naya menerobos masuk kedalam kamar Dira. Dokter ingin menghalangnya. Namun Ayah Dira memberi isyarat untuk membiarkannya. Aku memandang mereka dari sudut kosong.
Naya menghampiri tubuh yang terbaring lemah itu. Matanya terpejam. Banyak sekali alat-alat aneh yang bersarang ditubuhnya. Naya memandang wajah yang memakai masker oksigen itu. Tidak terbayangkan rasa sakit yang dirasakan Dira selama ini.
Diatas meja, dia melihat setangkai bunga Aster yang telah layu. Hanya tinggal satu kelopak yang tersisa. Naya teringat tulisan Dira didalam suratnya.

“Senyuman kamu tetap berharga didalam hidup aku, Dir.” ucap Naya. “Karena itu, aku mohon kamu bangun! Aku tidak akan memaafkan kamu kalau kamu tetap diam seperti ini.”

Naya menggenggam erat tangan Dira.
Perlahan Dira membuka matanya. Dia tersenyum memandang Naya. Dengan tangannya yang gemetar, Dira mencoba meraih wajah Naya. Naya menyabutnya dengan hangat.
Aku membimbing tangan Dira untuk membelai wajah Naya. Dia sedah tidak dapat melakukan itu sendiri.
Angin berhembus melalui celah jendela. Tiba-tiba tangan lemas yang membelai pipi Naya terjatuh, bersamaan dengan gugurnya kelopak terakhir bunga Aster.
Naya masih terpaku. Mata itu, tidak lagi terbuka. Senyum itu, tidak lagi mengembang. Tidak mungkin. Dira tidak mungkin…

“DIIIRRAAAAA!” teriak Naya histeris.

Ia terjatuh dan menangis disamping ranjang Dira. Dia menangis dan terus menangis.
Aku memandang mereka. Ini memang hanyalah cinta yang kecil. Ini adalah jalan kasih yang Naya dan Dira lewati. Cinta ini bukan apa-apa dibandingkan luasnya dunia. Namun cinta yang kecil ini, tlah memberikan senyuman yang tiada pernah terkira.
Didalam kelopak bunga Aster, cinta ini akan tetap ada….

**TAMAT**
******************************************************************************
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah ,seseorang mencoba merontokkan tembok.

Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada di situ 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaim anak kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun??? ,dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.

Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seeko kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya........

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu mem perhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah . Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagum kan.


Saya tersentuh ketika membaca cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, saudara lelaki, saudara perempuan.....Masih sejauh mana rasa cinta itu ada untuk mereka

JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI




sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2606153

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bersama pancake.

“Lama banget lo, setan!” Bimo mengutuk gue yang baru aja datang.
“Sori, tadi vespa gue ngadat gak mau nyala.” Gue menduduki sofa yang berada tepat di sebelah Bimo. “Lupa kasi sesajen kayaknya tadi malem.”
“Kenapa gak pake mobil?!”
Hening.
“Err.. iya juga ya?” Gue nyengir dan dahi Bimo makin mengkerut. “Lupa gue. Lo sih gak bilang daritadi.”
“Bener bener deh lo, Mas!”
“Haha, iye maap maap.” Gue ketawa ngikik.
Waktu Bimo mau melanjutkan makiannya, tiba-tiba seseorang menghampiri kami. Dan makian Bimo itu entah kembali lagi ke dalam perutnya, atau dia tahan di dalam kerongkongan. Sulit ditebak jika hanya melihat wajahnya yang memerah seperti orang menahan kekuatan kentut ekstra yang berbahaya.
Oh oke gue lebay. Tapi gue ganteng kok, jadinya impas.
“Permisi, Mas. Mau pesen apa ini?” Orang itu ternyata pelayan wanita yang  mengenakan seragam berwarna cokelat tua. Dia cuman nanya ke gue, karena Bimo udah pesan kopi dari tadi. Itu, bekas gelasnya yang ada dua buah, terlihat kosong di atas meja.
“Oh, saya mau black coffee satu deh, Mba’.” Gue menjawab cepat. Menjawab dengan cepat maksudnya, bukan menjawab ‘cepat’. Dan cepat itu juga bukan nama si pelayan yang pertanyaannya gue jawab. Begitulah adanya.
Black coffee-nya satu. Ada yang lain lagi, Mas? Bole coba pancake-nya? Enak lho.” Pelayan itu berbicara sambil tersenyum. Seperti hendak tertawa, tapi ditahan-tahan. Entah ditahan oleh apa, atau oleh siapa. Asal jangan ditahan hansip sih gak apa-apa.
“Oh, boleh deh satu.” Gue nelen ludah nahan pengen. “Lo gak mau, Mo?”
“Kagak!” Bimo menjawab sewot.
Gue nyengir lebih lebar.
“Udah, itu aja dulu kayaknya, Mba’.” Kata gue pada si Pelayan yang pergi setelah mengucapkan terima kasih. Sopan sekali dia, pasti waktu SD pernah dapat sepuluh besar. Sama kayak gue. Makanya gue juga sopan.
Setelah itu gue langsung ngeluarin hape dari dalam kantong celana. Pada layarnya, gue mendapati ada satu pesan singkat dari seseorang, gue belum tahu siapa karena gue belum buka. Gue buka, ngangguk bentar lalu membalasnya dengan segera.
Intinya gue mengiyakan isi pesan tersebut. Abis bales pesan, gue kantongin lagi dong hapenya, masa iya gue lempar ke jidat Bimo? Nanti bisa lecet hape baru gue ini. Waktu gue beli, SPG-nya cakep pula. Sayang kan, nilai historisnya tinggi.
Terus itu gue langsung diem, sambil lihatin orang yang berjalan lalu lalang di depan cafe. Ini sengaja gue lakukan, biar Bimo tambah kesel. Biar gue tahu dia kalo kesal banget, bisa jadi hulk juga atau  gak, kayak di film itu. Siapa tau dia bisa berubah jadi hulk warna pink!
“Woy!” Bimo memukul pelan dengkul gue. Seperti kucing gembul yang minta diperhatikan oleh majikannya.
Gue liat dia, dan hampir kaget. Gue kirain dia udah berubah beneran jadi hulk. Tapi ternyata tampangnya emang kayak gitu, bisa-bisanya gue lupa.

“Eh, ada apa, Mo?” gue pura-pura kaget dan nyengir lagi. “Wah, udah lama lo dimari? Udah lama nih kayaknya, ya? Sampe habis dua gelas kopi gitu. Gak baek lho banyak-banyak minum kopi. Lo katanya ada maag. Ya kan ya kan?”
Plok.
Pipi gue digapluk Bimo pake gulungan majalah ternak yang dari tadi dipegangnya.
“Eh diem, dodol! Serius nih. Gue deg-degan banget!” Wajah kesal Bimo perlahan mengendur. Terlihat jelas gurat cemas disana. Eh, entah itu cemas atau memang kebelet. Nggak jauh beda sepertinya dari biasa.
“Kenapa lo? Kayak mau disunat aja pake deg-degan segala.”
“Seriusan! Gue nggak ngebayangin kalo dia nolak. Gila aja! Hancur berkeping-keping hati gue jadinya.” Bimo mengacak-acak rambutnya yang semi kribo itu. Kadang gue mikir, tiap kali dia ngacak-ngacak rambut gitu, pernah gak tangannya nyangkut kebelit rambut sendirim terus gak bisa lepas sampe dia harus dibotakin.
Gue langsung ngakak. “Dangdut lo, ah!”
“Rrrr.. gue gak peduli malunya. Gue cuma gak pengen dia lari dari hidup gue, itu doang, Mas.” Kata Bimo lagi. Nggak nyambung.
Well, baru kali ini gue lihat Bimo, seorang playboy jaman kuliah, mati kutu karena seorang wanita. Meski gue gak tau cewek itu ada kutunya atau nggak, yang pasti wanita bernama Kira itu, telah membuat Bimo jadi punya emosi kayak ABG labil lagi bokek. Bawaannya uraing-uringan mulu. Tiap ketemu sepen-lepen maunya selonjoran di terasnya mulu.
“Ja..” Upaya gue untuk buka suara, digagalkan oleh kedatangan pelayan yang membawa pesanan. Gue kasih senyum dan dia langsung pergi setelah gue ucapkan terima kasih.
“Ja apaan? Jakarta punya monorail?” Bimo ngocol.
“Ja.. Di.. Bimo, gue tanya sama elo.” Kata gue pelan.
“He’eh..”
Sambil menggantung omongan, gue membuka bungkus gula, dan menaburkannya ke dalam kopi. “Elo udah tau ntar apa yang bakalan lo bilang ke dia?”
Bimo menghenyakan punggungnya ke sofa. Tangannya sibuk memainkan zippo bercorak bendera Amerika miliknya. “Gue tau, tapi..”
“Tapi lo belom yakin?”
Bimo mengangguk.
“Tapi lo takut lo salah ngomong?”
Bimo mengangguk lagi.
“Tapi lo takut.. err..”
Bimo diem. Terlihat dia tengah menahan nafas menantikan ucapan gue selanjutnya.
Gue mengaduk kopi perlahan, dan meminumnya sedikit. Gue keluarin hape, dan main game snake sambil cekikikan.
“WOY!”
“Eh, ada apa, Mo?” gue pura-pura nggak ada apa-apa.
“Sambungin omongan lo. Gue hampir pingsan nahan napas, dodol!”
“Lho? Lo nungguin? Gue kirain kagak.” Gue ngakak lagi.
“…” Bimo siap-siap gampar muka gue pake majalah lagi.
“Oh oke, tapi.. lo takut lo bakalan ditolak?”
Bimo mengangguk berkali-kali. Kelihatannya, ucapan gue yang terakhir yang paling ngena di hatinya.

Iya, siapa sih yang nggak takut ditolak ketika kita mengharapkan sesuatu? Gue aja kalo nelpon bini pake private number terus dia tolak rasanya kesel. Kesel gak bisa godain dia sih. Memang beda kasus, tapi intinya gue mau nyampein kalo dimana-mana, ketika kita berharap dan kita ditolak itu rasanya nyesek. Lo boleh percaya, bole kagak, tapi itu lah yang terjadi. Hidup telah mengajarkannya pada gue.
Oke, ngomong serius ini bikin hidung gue gatel.
“Gue harus gimana, Mas?” Bimo kembali mengacak-acak rambutnya, dan gue kembali berharap tangannya nyangkut disana.
“Ya udah, yang penting lo harus tenang.”
“Terus?”
“Tenang dulu. Lo udah tenang belom ini?”
“Belom.”
“Tenangin diri dulu kalo gitu dong!”
“Caranya?”
“Bikin sayembara.” Jawab gue sekenanya.
“Seriusan, Mas?” Bimo menjawab dengan polosnya.
“Serius pala lo gedek. Gini.. coba lo tarik nafas, tahan bentar, keluarain lagi. Kayak senam SKJ. Lakuin terus sampe perasaan lo lebih tenang. Itu biasanya yang gue lakuin kalo harus ketemu mertua.”
“Oh, oke, Mas!” Bimo jawab semangat.
“Nah, kalo lo udah tenang, pada saat lo nyampein ke Kira nanti, lo cuman harus jujur.”
“Jujur?”
“Iya, kayak lagu Radja. Lagu yang pernah gue pasangin jadi ring back tone di hape lo itu.”
“Jadi itu elo yang masang, pantesan! Kampret!”
“Udah udah, jangan rewel. Ntar gue pasangin lagi deh. Nah, sekarang lo ngerti gak yang gue maksud tadi?”
“Err.. belom. Gue kalo cuman ngebayanginnya doang sih bisa. Tapi takutnya pas udah di depan dia, malah gagap.” Bimo sekali lagu acak-acak rambutnya, tapi kali ini gue capek berharap. Sungguh.
“Bagus kan kalo gagap, lo bisa jadi pelawak.”
“…”
“Nah, itu makanya gue suruh lo tadi tenang. Baru deh ngomong. Jangan panik, biarkan semuanya ngalir. Ngerti?” kata gue semangat. Tapi kayaknya gue terlalu semangat. Ini ditandai dengan pandangan aneh orang-orang di sekeliling kami. Mereka berbisik-bisik. Mungkin mereka heran kok gue bisa ganteng banget. Ah, dasar orang sirik!
“Oke oke. Gue siap!”
“Nah gitu dong.”

Gue ambil hape dan menekan beberapa nomor. Bimo diam, dia tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Halo.” Nah, ini suara wanita di seberang telepon.
“Halo, 5 menit lagi.” Gue ngejawab pasti dengan suara pelan.
“Oh, oke.”
Sambungan telepon terputus.

Gue meratiin Bimo, wajahnya makin memucat. Pasti deg-degan banget rasa hatinya. Gue sedikit banyak bisa merasakannya.
“Bimo. Tugas gue kayaknya udah cukup.” Kata gue dengan suara dalam. Ini karena memang gue ngomong serius.
“Heh? Gue harus terus latihan sampe nanti malem. Masih 7 jam lagi sebelum gue ngelamar dia.” Bimo mencak-mencak.
“Udah, nggak ada yang harus lo latihanin lagi. Lo cuman harus tenang, dan jujur. Jujur pada perasaan lo sendiri. Sisanya biar Tuhan yang tentukan.”
Bimo melongo lihat gue ngomong beginian.
“Percaya sama gue, Mo. Bentar lagi dia dateng…” gue liat jam tangan. “Sekirar 3 menit lagi.”
“BUSET! APAAN INI?” Bimo kaget.
Plak.
Gue tampar pipinya.
“Lo harus tenang, bego! Tenang dan jujur. Kira bentar lagi dateng, rapiin rambut lo itu, gue bantu doa nanti. Pasti bisa! Pasti diterima!” Gue nyengir.

Dan merasa tak punya pilihan lain, Bimo menuruti perkataan gue. Dia rapiin rambutnya, juga bajunya. Dia mau merapikan muka, tapi gue rasa dia juga tahu kalo usaha itu sia-sia.
“Gue cabut dulu, Mo. Good luck, buddy!”
Secepat mungkin gue keluar dari dalam cafe. Kopinya biarlah Bimo yang bayar. Di pintu masuk, gue berselisih jalan dengan Kira. Entahlah, gue yakin itu dia. Cantik dan anggun. Pantas saja Bimo tergila-gila. Tapi parfumnya kok aroma pisang? Rrr.. ngetren apa yak?

Ini gue gak langsung pergi, dan mencoba mengamati gerak-gerik Bimo dan Kira dari kaca jendela depan cafe. Gue gak harus takut terlihat oleh orang-orang, karena memang mereka tidak bisa lihat gue juga.
“Hei, Mas.”
Seseorang memukul pundak gue. Namanya, Sherry. Dia rekan kerja gue. Dia lah yang menjadi pelayan berseragam cokelat.
“Ini pancake lo tadi.” Sherry memberikan piring berisi makanan itu. Gue nyengir dan memakannya kayak orang kalap buka puasa.
Sherry lalu mengajak gue masuk ke dalam cafe, tapi tidak lewat pintu yang gue lewati tadi ketika masuk dan keluar. Kita berdua menembus dinding dengan kaki melayang, seperti yang biasa kaum kami lakukan.
Lalu setelah cukup dekat dengan meja dimana Bimo dan Kira duduk, dengan satu jentikan tangan, Sherry mengeluarkan sebuah sofa empuk dari udara kosong. Sofa itu menggantung begitu saja. Gue dan dia lalu duduk disana. Kami lalu serius memperhatikan Bimo yang dengan tenangnya, mencoba mengungkapkan perasaannya pada Kira. Wanita itu hanya diam, dengan tangan mendekap dada. Matanya terlihat berkaca-kaca.
“Kira.. will you marry me?
Dang!
Keluar juga kata-kata sakti itu dari mulut Bimo. gue deg-degan parah. Meski gue tahu, pasti keterima.
Sekarang perhatian gue dan Sherry terpaku pada Kira yang matanya makin berkaca-kaca. Tanpa menjawab, dia berdiri memeluk Bimo. Dan Bimo langsung teriak girang, waktu Kira membisikkan kata “Iya” pada telingannya.
“SEMUA YANG DISINI, GUE TRAKTIR! LAMARAN GUE DITERIMA WANITA CANTIK INI! WOOOHOOO!!” Bimo teriak kayak orang gila. Eh ralat, dia memang setengah gila.
Dan seperti temen-temennya orang gila, orang seisi cafe, berteriak senang dan bertepuk tangan karena ditraktir mendadak. Beberapa orang menghampiri Bimo, dan mengucapkan selamat. Nah, Bimo pun menangis haru. Kayak bocah yang dibeliin kancut baru.

“Oke, kerjaan kita hari ini selesai, Mas.” Sherry nyenggol lengan gue.
“Iya, Sher.”
Entah kenapa mata gue berkaca. Gue baru kenal Bimo beberapa menit yang lalu, dan dengan sihir kecil dia mengira gue ini adalah sahabat lamanya. Dan entah mengapa, gue juga merasa seperti ini. Entahlah.
“Udahan ini? Biar gue bersihin lagi ingatan mereka tentang kita.” Sherry nyenggol lengan gue lagi. Dia ini memang doyan nyenggol.
“Iya. Hapus gih.” Gue nyengir.
“Jangan sedih. Nanti sesekali kita kunjungi mereka lagi.” Sherry lalu merapal mantera, dan semacam cahaya merah muda keluar dari kepala orang-orang yang berada di dalam cafe. Ingatan mereka tentang gue dan Sherry itu akhirnya terbang menembus langit-langit bangunan, menuju langit yang sebenarnya.
“Yuk, Mas! Masih ada lima orang lagi yang harus kita jodohin.” Tuh, Sherry nyenggol lagi.
“Lima? Buset! Selanjutnya gue pengen jadi barista deh, biar kerenan dikit.”
“Haha, serah lo deh, Mas. Yuk!”
Sherry meraih tangan gue, dan kita pun menghilang.
Poof!

Sesaat tadi sebelum melompati dimensi tadi, gue yakin banget, Bimo ngeliat gue. Ngeliat langsung ke mata gue. Ah gila! Hubungan batin apa ini?  Nanti anak mereka, harus anak gue juga yang jodohin!
Gue kembali bersemangat.
“Yak, selamat datang di Barcelona!” Sherry berteriak lantang.
“Oh, hari ini bule ya? Sip!”
“Yup, dan mereka.. lesbi.”
“Oh.. good..”


fin

pict taken from google.com
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tunggu Aku, Aku Pulang..

Deretan senjata AK-47 berbaris rapi di atas meja panjang yang berada di sebelah sebuah rak besi. Rak itu berisikan banyak makanan kering yang dibungkus seperti kemasan susu formula bayi. Di seberang meja, duduk dua orang dengan jeda pangkat berbeda sambil memegang masing-masing cangkir kopi mereka.
“Bagaimana, Jim?” Kata Bill sambil memperhatikan gambar Donal Bebek pada cangkirnya.
“Ya?” Jim menjawab. “Bagamana apanya?”
“Istrimu. Sudah melahirkan?”
“Oh, kata dokter mungkin bulan depan.”
Good.” Bill tersenyum.
“Iya. Hehe.” Jim ikut tersenyum.
Malam pun semakin pekat, dan waktu tanpa terasa hampir menyentuh pukul 12 malam. Angin khas gurun kembali memeluk masing-masing orang yang berada di sana. Angin yang dingin, tajam menusuk ekstrem hingga ke tulang. Bill dan Jim merapatkan jaket mereka, udara malam ini lebih dingin dari biasanya.
“Kau beruntung, Jim. Memilikki istri cantik, dan akan segera memilikki anak yang pastinya cantik seperti ibunya, atau hebat seperti ayahnya.” Bill berbicara sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi pantai yang didudukinya.
Jim tersenyum mendengar perkataan atasannya itu. “Dia pasti cantik seperti ibunya. Dari dulu aku ingin memilikki seorang putri, entah mengapa.”
“Iya, semoga.”
“Hahaha, amin.”
Bill mengangkat gelas kopinya lalu berkata, “Untuk putri cantikmu, dan untuk insyafnya para tentara pemberontak yang keras kepala ini. Cheers.”
Jim spontan ikut mengangkat cangkirnya. “Cheers!”
Mereka lalu meminum kopinya sedikit, dan kembali terdiam beberapa saat.
“Apa yang kau pikirkan tentang istrimu? Apa kau yakin dia di sana setia?” Kata Bill kemudian.
“Maksudmu?”
“Perkataanku sudah jelas, Jim. Jangan tersinggung ya. Kau tahu, rasa sepi terkadang membuat orang jadi lupa arti setia.” Bill mencoba menjelaskan. “Dan hei, kita sudah lebih enam bulan berada di sini. Jauh dari rumah, dan kau juga jauh dari istrimu.”
Jim tak langsung menjawab, dia menarik nafas, menunduk sebentar lalu mengangkat kepalanya dengan senyuman lebar.
“Kau tahu, Bill. Istriku adalah wanita terhebat di dunia. Aku dan dia berpacaran hampir enam tahun lamanya, sebelum pada akhirnya tahun lalu kami menikah. Hebatnya, tak pernah sekalipun aku mendengar dia mengeluh tentang segalanya. Dia hanya akan tersenyum dan memelukku pada priode sulit hubungan kami.”
Bill mendengarkan dengan tekun.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tiga kata sakti mandraguna!

Holla, world!


Belakangan ini, saya teringat terus sama sebuah iklan 'berisi' dari radio ini. Saya lupa juga sih gimana-gimana dialog yang dipakai dalam iklan tersebut. Cuma dengan ingatan sekelas batere bekas ini, saya cukup bisa menangkap apa maksud dari iklan itu.
Yaitu..


"Mari kita budayakan penggunaan kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong"


Simpel kan?
Kalo diitung-itung, apa sih susahnya ngucapin kata-kata di atas itu. Bahkan kata-kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong lebih enteng di lidah daripada umpatan-umpatan khas mafia nigger yang lagi ngetrend di kalangan remaja sekarang. - remaja salah gaul maksudnya x)
Biarpun enteng, tapi tanpa kita sadari, kata-kata tersebut memilikki magic yang nggak bisa dikata, tapi terasa di hati. Saya selalu percaya, kata-kata di atas bisa membuat kita jauh lebih dihargai oleh orang lain. Kenapa? Karena dengan menggunakan kata-kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong itu tadi, artinya kita juga lebih bisa mengharai orang lain. Sesuai dengan ungkapan, kalo nggak mau dicubit, jangan nyubit. Nah ini versi positifnya. Bayangin deh, dunia bakalan jauh lebih indah dan berwarna dengan pembudayaan kata-kata tersebut dalam percakapan kita sehari-hari. 


Berikut ini saya tampilkan beberapa contoh dari penggunaan kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong yang tepat dalam sebuah kalimat. 


* Bibi, tolong ambilin minum buat temen-temenku ya. Makasi ya, Bi. - pasti si bibi ngambilnya semangat
* Oh iya. Makasi ya kemaren kamu udah temenin aku pulang. Aku seneng deh. Mama juga bilang makasi buat kamu lho.. - pasti dah gebetan kamu jadi tambah giat dan semangat PDKT-nya
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Terima kasih?

Mau sendal gratis seperti di gambar ini?!
Nah, coba temukan satu frase yang sama pada ketiga kalimat di bawah ini!
“Terima kasih ya, mas. Pesanannya udah sampe.”
“Terima kasih ya, mbak. Sayur lodehnya kemaren endang bambang!”
“Terima kasih ya, sayang. Aku udah kamu tabrak pake truk ayam tadi pagi.”

Udah tahu jawabannya? Bukan. Jawaban dari pertanyaan di atas itu bukan frasepopok kiyudh. Oke, popok memang imut, tapi itu gak ada di ketiga kalimat di atas.
Nah, Jawaban yang bener itu memang ‘terima kasih’.
Dan buat kamu yang merasa jawabannya bener, silahkan hadiah sendalnya boleh diambil di mesjid-mesjid terdekat, pada hari jumat mendatang. Segala ukuran, segala warna, segala merk, mau berapa aja, silahkan embat sepuasnya!

Baiklah ini saya kasih tipsnya untuk mencuri sendal di mesjid yang baik. Pertama, usahakan jangan pake sarung, biar kalo dikejer orang sekampung larinya gampang. Kedua, jangan singgah beli jajanan kerupuk waktu diteriakin maling. Ketiga, jangan ambil sendal butut warna ijo di Mesjid Al Ikhlas, itu punya saya. Demikian.

Anywaaaaay!
Ini saya sebenernya mau bahas tentang saktinya frase ‘terima kasih’ sih, bukan malah mau bahas tentang “tata cara mencuri sendal di mesjid dengan cara terhormat dan tetap ganteng”, meskipun kapasitas wajah dan pengalaman jadi maling sendal spesialis jumatan saya, telah sangat memenuhi syarat. Mari sejenak kita lupakan dulu ini. Sepakat? Good.
Well, pernah nggak kalian perhatiin wajah lawan bicara, setelah kalian ucapkan terima kasih kepadanya dengan wajah tulus setulus-tulusnya kalian sebagai manusia?
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Paris, bukan Keris.

Iya, Kanaya selalu cerita sama gue dari hari ke-245 kami jadi teman sebangku. Dan selalu menceritakan itu sampai sekarang, sampai terakhir gue ketemu dia kemaren di rumahnya.

“Be.. ada nggak hal yang paling kamu ingini di hidup ini?” Waktu itu istirahat pertama setelah pelajaran fisika. Dan mendadak Kanaya bertanya serius, entah karena mabok rumus atau apa.
“Maksud kamu?”
“Itu.. Ada nggak hal yang paling kamu ingini di dunia ini. Selain bikin bahagia orang tua lah.” Katanya sambil membereskan buku pelajaran.
Gue yang waktu itu sedang berniat ngupil, mendadak tertegun. Dan berpikir setelahnya. Well, seingat gue, gue gak jadi ngupil.
“Hmm.. gue pengen ketemu alien.” Jawab gue seadanya. Entah deh, entah apa itu memang hal yang paling gue ingini dalam hidup atau bukan.
“Ketemu alien? Dasar cowok aneh.” Kanaya tertawa kecil. Oh iya, sejak saat itu, dia selalu mengatakan itu. Mengatakan kalo gue ini cowok aneh.
“Kalo kamu apa?”
Kanaya terdiam, ada jeda panjang sebelum dia berbicara dengan senyum yang manis dan mata yang menerawang berbinar.
“Paris.”
“Paris?” gue heran. “Masa iya dia mau beli Paris. Berapa duit coba?” Gue salah tangkep.
“Aku pengen pergi ke sana.”
“Oh. Ke Paris?”
Dia mengangguk sambil nyengir. Dan gue entah kenapa, terdiam.

“Pasti seneng banget bisa ke sana. Keliling kota jalan kaki, terus naik ke menara Eiffel. Terus.. Terus.. uaaaah, ngebayanginnya aja udah seneng banget, Be.” Katanya sambil mengusap air mata.
“Kamu kenapa?” Tanya gue kuatir.
“Eh, gak apa-apa. Malu-maluin, aku emang kalo udah pengen banget jadi suka terharu gak jelas gini. Hihi.” Kanaya menjawab gugup. Dan detik itu gue tahu dia memang bukan sekedar pengin ke Paris. Dia memimpikan untuk bisa berada di sana. Setinggi itu inginnya.
“Udah jangan mewek, ntar kita ke sana.” Kata gue pelan.
Bruk.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Yahoo
Reddit
Feed

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sambil Baca Dengerin Qur'an

Unborn 8.0 Orange Alternate Select