Deretan senjata AK-47 berbaris rapi di atas meja panjang yang berada di sebelah sebuah rak besi. Rak itu berisikan banyak makanan kering yang dibungkus seperti kemasan susu formula bayi. Di seberang meja, duduk dua orang dengan jeda pangkat berbeda sambil memegang masing-masing cangkir kopi mereka.
“Bagaimana, Jim?” Kata Bill sambil memperhatikan gambar Donal Bebek pada cangkirnya.
“Ya?” Jim menjawab. “Bagamana apanya?”
“Istrimu. Sudah melahirkan?”
“Oh, kata dokter mungkin bulan depan.”
“Good.” Bill tersenyum.
“Iya. Hehe.” Jim ikut tersenyum.
Malam pun semakin pekat, dan waktu tanpa terasa hampir menyentuh pukul 12 malam. Angin khas gurun kembali memeluk masing-masing orang yang berada di sana. Angin yang dingin, tajam menusuk ekstrem hingga ke tulang. Bill dan Jim merapatkan jaket mereka, udara malam ini lebih dingin dari biasanya.
“Kau beruntung, Jim. Memilikki istri cantik, dan akan segera memilikki anak yang pastinya cantik seperti ibunya, atau hebat seperti ayahnya.” Bill berbicara sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi pantai yang didudukinya.
Jim tersenyum mendengar perkataan atasannya itu. “Dia pasti cantik seperti ibunya. Dari dulu aku ingin memilikki seorang putri, entah mengapa.”
“Iya, semoga.”
“Hahaha, amin.”
Bill mengangkat gelas kopinya lalu berkata, “Untuk putri cantikmu, dan untuk insyafnya para tentara pemberontak yang keras kepala ini. Cheers.”
Jim spontan ikut mengangkat cangkirnya. “Cheers!”
Mereka lalu meminum kopinya sedikit, dan kembali terdiam beberapa saat.
“Apa yang kau pikirkan tentang istrimu? Apa kau yakin dia di sana setia?” Kata Bill kemudian.
“Maksudmu?”
“Perkataanku sudah jelas, Jim. Jangan tersinggung ya. Kau tahu, rasa sepi terkadang membuat orang jadi lupa arti setia.” Bill mencoba menjelaskan. “Dan hei, kita sudah lebih enam bulan berada di sini. Jauh dari rumah, dan kau juga jauh dari istrimu.”
Jim tak langsung menjawab, dia menarik nafas, menunduk sebentar lalu mengangkat kepalanya dengan senyuman lebar.
“Kau tahu, Bill. Istriku adalah wanita terhebat di dunia. Aku dan dia berpacaran hampir enam tahun lamanya, sebelum pada akhirnya tahun lalu kami menikah. Hebatnya, tak pernah sekalipun aku mendengar dia mengeluh tentang segalanya. Dia hanya akan tersenyum dan memelukku pada priode sulit hubungan kami.”
Bill mendengarkan dengan tekun.
Senyumannya seolah meminta Jim untuk bercerita lebih banyak.“Sewaktu kuliah, dia termasuk salah satu mahasiswi tercantik di sana. Dan aku, hanya seorang pemain sepak bola yang tidak terlalu menonjol di klub. Namun ketika akhirnya aku berani mengungkapkan rasa, dia tanpa menjawab apa-apa mencium dan memelukku lama sore itu. Entahlan, dia luar biasa. Teramat luar biasa.”
“Kau pasti sangat menyayanginya.”
Ada jeda lagi sebelum Jim menjawab.
“Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku jatuh cinta. Juga sebelum dan sesudah ciuman pertama kami, aku jatuh cinta. Bahkan sore tadi aku jatuh cinta lagi, setelah hanya mendengar suara lembut miliknya dan melihat senyuman manis yang terkurung dalam fotonya di dompetku. Iya, aku sangat mencintainya.”
“Kau pasti merindukannya sekarang.” Kata Bill lagi.
“Iya. Aku merinduinya sekarang, tadi, dan nanti.”
Kali ini Bill yang menarik nafas panjang. “Kalian pasangan yang hebat.”
Jim menjawab dengan senyuman, dan mereka kembali terdiam beberapa saat.
“Jadi.. Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini usai?” Bill akhirnya kembali membuka suara.
Jim tak langung menjawab, dia meletakkan cangkirnya di atas meja lalu menarik nafas perlahan. “Entahlah. Aku hanya ingin pulang. Memeluk istriku, dan menemaninya di detik-detik kelahiran anak pertama kami. Hanya itu..”
“Sederhana ya?” Bill tersenyum sambil memukul pundak Jim.
“Ya, sesederhana itu.” Jim tersenyum miris.
“Sudahlah, semua pasti akan cepat berlalu. Aku janji, kau akan segera pulang.” Kata Bill bersungguh-sungguh.
“Yah, aku akan pulang. Tapi di dalam mimpi.” Jim terkekeh mendengar ocehan atasannya itu. Karena dia tahu, kepulangan takkan mungkin bisa dilakukan di dalam priode agresi kecuali ayahmu adalah seorang jenderal.
“Percaya padaku. Selamat malam.” Bill tersenyum lalu menenggelamkan diri dalam kantuknya.
Jim memandangi sekelilingnya, pemandangan yang sama yang telah disaksikannya beberapa bulan belakangan. Dia rindu rumah, rindu istrinya. Malam itu, dia tidur sambil memeluk foto istrinya yang sedang tersenyum cantik, lalu berdoa.
* * *
“Huah!” Jim terpekik kaget. Terbangun dari tidur dalam keadaan terkejut terasa tak begitu mengenakkan ternyata. Ternyata dia tertidur dengan kepala menyadar di tepi meja sambil memegangi foto istrinya. Seperti sebuah kilas film, ingatannya kembali pada kejadian di malam sebelumnya tanpa perintah.
“Kapten Bill?” gumam Jim perlahan menyebut nama atasannya yang telah gugur seminggu lalu karena ranjau darat, juga tanpa perintah.
“God..” Sekarang dia mengerti, semua tadi hanya mimpi.
“Tapi ini..” Jim bergerak cepat meraih sebuah benda. Cangkir bergambar Donal Bebek milik Letnan Bill. Seakan tak percaya, Jim hanya diam dengan mulut setengah menganga. Degup jantungnya mendadak berdetak lebih cepat dari biasa.
“JIIIIIM!! Kau di sana?” Sebuah suara berat mengagetkan Jim yang sedang berpikir.
“Iya, aku di sini, Ron.”
Ron lalu masuk ke dalam tenda.
“Oh, kau semalaman tidur di sini ya?” Ron mendekat sambil menyerahkan sebuah amplop.
“Apa ini?” Jim bertanya heran.
“Baca saja. Aku harus menyebarkan ini semua ke beberapa orang beruntung lainnya.” Ron menepuk pundak Jim lalu melangkah keluar dari dalam tenda.
“Oh, okay.” Jim menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dengan tangan yang entah mengapa bergetar, Jim mencoba membuka amplop berwarna coklat itu. Perlahan dia mengambil surat resmi yang berada di dalam sana, dan membacanya dengan suara pelan.
…dengan referensi dari Jendral Peter Elias, maka Anda yang bernama Jim Ferro akan dipindah tugaskan dan mendapat kenaikan pangkat ganda untuk bertugas di pangkalan militer pusat negara, dimulai 3 hari sejak surat ini diterima.
Waktu terasa membeku.
Seketika, Jim berkata dengan suaranya yang bergetar hebat. “Bill, di mana pun kau sekarang. Terima kasih, kawan. Aku… pulang.”
* * *
note : terinspirasi dari beberapa bait dalam lagu Dear God – Avenged Sevenfold
Tidak ada komentar:
Posting Komentar