“Menurut kamu yang ini gimana?” Kata Asti yang sedang menunjukkan beberapa buah pernak-pernik untuk resepsi pernikahan yang berupa handuk-handuk kecil berhias manik-manik, pada Rangga.
“Iya.” Rangga menjawab sekedarnya, sambil terus menatap lekat wajah wanita yang sedang bertanya.
“Iya apaaaaa? Kamu ini dari tadi ditanya iya-iya mulu ih.” Kata Asti kesal. Dia lalu melempar tisu yang sejak tadi dipegangnya ke wajah Rangga yang masih terus sumringah.
“Hehe..” Rangga malah cengengesan.
“Kamu ini. Huh. Lihat aja nanti kalo resepsinya berantakan, semua-semuanya kamu bilang terserah aku sih.” Asti lanjut ngomel-ngomel.
Rangga nyengir.
Di tempat itu, hanya ada mereka berdua. Di sekeliling meja taman beratapkan payung pantai yang sofanya mereka duduki, tak ada seorang pun yang terlihat ikut berada di sana. Hanya ada beberapa pohon beraneka jenis yang tumbuh dengan berlapiskan rerumputan hijau segar yang rapi dan juga beberapa jenis bunga yang terlihat gemuk dengan perawatan ahli Mang Dadang si tukang kebun berpengalaman.
Asti masih sibuk dengan kegiatannya melihat-lihat contoh pernak-pernik untuk dicocokkan dengan katalog yang ada di tangan kirinya. Sementara Rangga, dia hanya sibuk memusatkan perhatiannya pada setiap detil gerak Asti dengan mulut sedikit menganga.
“Kamu cantik sekali sih, sayang.” Ujar Rangga tiba-tiba.
“Duh, apa sih kamu?” Asti menatap sinis. Kegiatannya memilah pernik untuk resepsi terganggu oleh rayuan Rangga. Terganggu dengan cara paling menyenangkan memang.
Melihat reaksi Asti, Rangga lalu mengangkat punggungnya yang sejak tadi menyandar pada sandaran empuk sofa.
“Hei, jawab dong. Kok bisa sih cantik banget gitu? Bagi dong resepnya.” Rangga mengedipkan matanya beberapa kali sambil tersenyum genit.
“Duh, apa sih kamuuuuu?” wajah Asti mulai memerah.
“Tuh kan kamu, pelit ah. Untung cantik, jadi biarpun pelit masih bisa dimaafin.”
“Apa sih kamuuu? Genit mulu.”
“Aku kan cuma nanya, rahasia kamu apa kok bisa jadi secantik itu. Bisa tetap cantik sejak pertama kita bertemu dulu.”
“Baiklah..” Asti tampak sudah mulai bisa menguasai malunya. “Sini dekatkan telinga kamu, tuan genit.”
Rangga pun menurut lalu mendekatkan sisi wajah sebelah kanannya pada Asti yang telah bersiap membisikkan sesuatu.
“Rahasianya adalah Ra-ha-sia.” Lalu Asti tersenyum manis sambil mengacak rambut milik rangga yang kemudian hanya terkekeh kecil sambil membenarkan kembali posisi duduknya.
“Hmm, baiklah jika rahasia kamu itu adalah rahasia. Aku akui kamu mungkin memang cantik dari sananya.” Kata Rangga lagi.
“Iya dong.” Asti mengangguk cepat.
“Hehehe, oke. Tapi, bolehkan saya bertanya sekali lagi pada kamu, nona cantik?” Rangga kembali mengedipkan matanya.
“Baiklah, sekali saja. Hanya sekali saja, jadi siapkan pertanyaan terbaikmu, tuan genit.” Asti terkekeh setelah menyelesaikan pertanyaannya. Sekarang pikirannya tak lagi terbagi dengan pernak-pernik resepsi pernikahan lagi ternyata.
“Hmm, baiklah. Sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu tentang pertanyaan yang akan kutanyakan ini.”
“Iya, tuan? Apa itu? Nona cantik ini siap kok mendengarkan dengan segala kerendahan hati.” Asti nyengir.
“Begini, sebenarnya pertanyaan ini sejak lama ingin kutanyakan. Tapi..”
“Tapi apa?”
“Tapi aku takut nona cantik marah lalu berubah pikiran, dan memilih lari dari kenyataan yang seharusnya kamu habiskan denganku bersama-sama. Selamanya.” Ujar Rangga berlebihan.
“Wah, apa begitu berbahayanya pertanyaan ini?” Asti tampak mulai lebih tertarik pada tiap detil perkataan Rangga.
“Sangat! Karena itu, maukan nona cantik ini berjanji takkan pergi jika memang nanti jawabannya adalah ‘iya’?” Rangga tampak mencoba memasang tampang kuatir yang dibuat-buat.
Asti lalu memainkan telunjuknya di bibir, tampak berpura-pura berpikir, lalu menjawab, “Hmm, baiklah, tuan genit.”
“Syukurlah.” Rangga mengelus dadanya.
Rangga menarik nafas dan melanjutkan perkataannya, “Pertanyaannya adalah.. Di mana sih nona cantik, hmm, menyimpan sayap nona selama ini?”
Asti mengerutkan dahi. “Sayap?”
“Iya, sayap. Masa iya, bidadari nggak punya sayap?” Rangga nyengir lebar kali ini.
Hening.
“Sayaaaaang. Garing ah.” Asti berujar malu. Wajahnya memerah penuh dan matanya tampak menitikkan air mata.
Melihat wanitanya seperti menitikkan air mata, Rangga spontan berdiri dan menghampiri Asti di tempat duduknya.
“Hei, terima kasih ya.” Rangga mengusap sisa air mata Asti yang ada tersisa.
“Hehe, aku kok jadi emosional banget ya? Malu ah nangis karena garingnya kamu.” Kata Asti sambil tertawa kecil. “Oh iya, terima kasih untuk apa?”
“Terima kasih telah sudi menjadi milikku selama ini.” Tutup Rangga dengan sebuah pelukan dalam.
Asti tak lagi berkata-kata, hanya menjawab dengan pelukan yang sama hangatnya.
“Dan kamu, adalah wanita tercantik di dunia.”
“Dan kamu, adalah pria yang beruntung memilikkinya. Hihi.”
Mendadak dari arah pintu rumah, dua orang bocah berlari menyerbu liar sambil memamerkan tawa riang mereka.
“Kakeeeek! Neneeeek!
Asti dan Rangga tampak kaget sesaat, sampai mereka mengenali keduanya.
“Dinooo! Rimaaaa!” Asti melompat dari tempat duduk, dan menyerbu anak-anak bermata biru itu. “Nenek kangen sekali dengan cucu-cucu nenek ini deh.”
“Aku juga lho, Nek..” Kata Dino.
“Aku juaaaa! Aku jugaaaa!” Rima tak mau kalah.
“Kakek jugaaaa! Kakek jugaaaa!” Rangga ikut menyerbu dengan suaranya yang dimirip-miripkan dengan suara milik kedua cucunya.
“Hehehehehe.” Tawa keempatnya pecah.
Seorang wanita muda lalu menyusul ke bangku taman dengan antusias yang sama. “Ma.. Pa..” dia menyalami dan memeluk Asti dan Rangga bergantian. Sementara Dino dan Rima berlarian mengejar kupu-kupu yang terbang di atas bunga melati tepat di sebelah kolam.
“Oh iya, itu pernak-pernik buat resepsian Andre udah dipilih kan, Ma, Pa? Tuh anaknya malah main futsal sama temen-temennya. Pingit aja dong, Maaaa. Dasar adik durhaka tuh dia, ini aku atau dia sih yang mau nikah??” Rengek wanita yang bernama Dira itu, putri pertama Asti dan Rangga, juga ibu dari Dino dan Rima.
“Sudah sudah ah, jangan galak sama adik kamu. Ini juga udah Papa dan Mama pillih kok. Kita suka yang handuk itu saja. Lucu.” Kata Rangga cepat sambil merangkul pundak Dira.
Asti tertegun.
“Nah, aku juga suka yang itu..” Kata Dira setuju. “Baiklah.. Duh, itu anak-anak kok malah main tanah. Sebentar ya Ma, Pa.. Dinoooo! Rimaaaaa!” Dira berlari pontang panting meninggalkan Asti dan Rangga yang kembali duduk di sofa bangku taman.
Asti melirik, “Aku pikir kamu nggak perhatiin, Pa.”
“Perhatian apa?”
“Handuk tadi..”
“Oh..”
Sebelum menlanjutkan jawabannya, Rangga mengelus rambut beruban milik Asti perlahan. “Semua tentangmu takkan ada yang terlewatkan oleh keseluruhan umurku, sayang. Karena aku, mencintai kamu dengan terlalu, mencintai kamu, hai nona dengan wajah tercantik yang pernah ada di hidupku.”
“Dan sekarang aku tambah yakin, bahwa sumpah setia tiga puluh tahun lalu itu, bukanlah sebuah janji biasa. Terima kasih, lelakiku. Mudah-mudahn ini bisa lebih dari limat puluh tahun, atau mudah-mudahan selamanya.”
“Amin. Hmm.. Mungkin ini yang namanya jodoh..”
“Mungkin.”
“Amiiin..”
Senja itu, mereka berdua hampir lupa cara untuk menangis sedih lagi selama sisa umur yang mereka punya. Selamanya, sampai maut jadi pemisah.
* * * * *
note : biarpun nggak nyambung, tapi cerita ini lahir karena lagu Yellow milik Coldplay, semoga berkenan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar